Perayaan St.Nino-Sinulog (Foto: commonwikimedia)

Luar Biasa Perayaan St. Nino de Cebu-Filipina, Scholidays.com – Salah satu perayaan devosional paling besar di Filipina, yang dirayakan pada Minggu ketiga bulan Januari setiap tahun adalah perarakan Santo Nino de Cebu. Apa itu Santo Nino de Cebu?

Santo Nino adalah sebuah patung Yesus dalam bentuk seorang anak laki-laki kecil. Patung itu berukuran sekitar dua belas inci tingginya, terbuat dari kayu gelap dengan gaya baroque dan menggambarkan Anak Yesus sebagai raja berpakaian seperti bangsawan Spanyol.

Dua jari tangan kanan patung tersebut dalam posisi terangkat seperti posisi sedang memberi berkat, sementara itu tangan kirinya memegang globe yang melambangkan dunia.

Perayaan St.Nino-Sinulog (Foto: commonwikimedia)

Asal usul dari patung itu adalah sebagai berikut. Pada awal 1521, penjelajah Portugis Ferdinand Magellan, yang bekerja untuk melayani Raja Charles V dari Spanyol, sedang dalam perjalanan untuk menemukan rute ke barat ke pulau rempah-rempah.

Pada tanggal 7 April 1521, dia mendarat di Limasawa, Selatan Pulau Leyte, dan bertemu dengan penguasa setempat bernama Raja Kulambu, yang mengenalkannya ke penguasa pulau Cebu bernama Raja Humabon (beberapa catatan menyebut dia sebagai Sultan Humabon) dan istrinya, Hara Humamay.

Sto.Niño de Cebu (Foto: commonwikimedia)

Pada tanggal 14 April 1521, Magellan memberi mereka tiga hadiah, sebuah salib, sebuah gambar Maria dan patung Santo Nino de Cebu sebagai bagian dari baptisan mereka, dan sekaligus sebagai sebuah aliansi strategis untuk menaklukkan wilayah.

Raja Humabon dan ratu Hara Humamay kemudian dipermandikan menurut iman Katolik, dan raja mengambil nama Kristen Carlos (setelah Charles V), dan istrinya mengambil nama Juana (Joanna dari Kastilia, ibu Charles).

Menurut catatan Pigafetta (pendamping dan penulis riwayat Magellan) bahwa bersama dengan raja, dipermandikan pula sekitar 500 laki-laki dan 40 wanita juga oleh Pastor Valderrama.

Pada upacara tersebut, misalnya, Raja Kulambu dari Limawasa juga bertobat dan diganti namanya menjadi Don Juan, sementara kapten Muslimnya berganti nama menjadi Don Cristobal.

Perayaan Besar St.Nino (Foto: commonwikimedia)

Kekuatan dan keajaiban patung Santo Nino terbukti pada ekspedisi Spanyol yang kedua. Diceriterakan bahwa pada tanggal 27 April 1565, sebuah ekspedisi Spanyol dibawah pimpinan Miguel Lopez de Legazpi tiba di pantai Cebu. Mereka berusaha untuk mendapatkan sebuah pijakan bagi sebuah koloni untuk tukar menukar rempah-rempah, dengan cara damai tapi ditolak.

Karena ditolak maka Miguel Lopez de Legazpi memerintahkan untuk melepaskan tembakan ke Cebu dan membakar kota pesisir tersebut sehingga menghancurkan 1.500 rumah dan membunuh 500 orang. Di dalam reruntuhan kehancuran ini, pelaut Spanyol Juan Camus menemukan patung Santo Niño dalam kotak pinus.

Setelah diteliti, ternyata patung ini adalah hadiah yang diberikan Ferdinand Magellan kepada raja Cebu dan ratunya. Kejadian ini dipandang oleh penjajah Spanyol sebagai suatu tanda keajaiban dan terus melegenda diantara penduduk Katolik setempat dan diyakini bahwa santo Nino memiliki kekuatan ajaib.

Pada saat perang dunia II, sebuah bom dijatuhkan di gereja tempat patung Santo Nino berada, gerejanya berantakan tetapi patung santo Nino ditemukan dalam keadaan tidak bercacat.

Kejadian ini semakin memperkuat keyakinan umat dan rakyat Filipin bahwa Santo Nino memiliki kekuatan ajaib. Santo Nino diangkat sebagai pelindung para misionaris pertama dan orang kudus yang menjadi pelindung bangsa Filipina.

Pesta santa Nino merupakan pesta dan prosesi terbesar di Filipin. Pesta itu, yang secara lokal dikenal sebagai Fiesta Señor, dimulai pada hari Kamis setelah Hari Raya Epiphany. Setiap tahun, perayaan dimulai dengan prosesi fajar dimana gambar replika Santo Niño de Cebu dibawa turun ke jalan.

Interior Basilica del St. Nino (Foto: commonwikimedia)

Kemudian diikuti oleh Novena Misa yang terbentang selama sembilan hari. Pada hari terakhir novena, prosesi fajar lainnya diadakan di mana patung Nuestra Señora de Guadalupe de Cebu dipindahkan dari gerejanya dan dibawa ke Basílica. Setelah prosesi, ia akan tinggal sebentar di Basilika.
Kemudian, gambar Santo Niño de Cebu dan Nuestra Señora de Guadalupe de Cebu dibawa ke Katederal St. Joseph di Kota Mandaue untuk dipertemukan kembali dengan ikon senama gereja tersebut, sehingga membentuk Keluarga Kudus.

Ada perayaan dan doa sepanjang malam, gambar Santo Niño de Cebu dan Nuestra Señora de Guadalupe de Cebu dibawa kembali ke Kota Cebu dalam sebuah prosesi fluvial yang diakhiri dengan misa meriah dan baptisan pertama di pulau-pulau. Festival Sinulog Agung kemudian diadakan pada hari Minggu berikutnya.

Ada Ritual Hubo yaitu prosesi Sinulog termasuk menari dan pesta dengan hormat Santo Nino. Di atas, seorang peserta Sinulog membawa salinan patung Santo Nino. Festival ini secara resmi berakhir pada hari Jumat setelah perayaan hari raya ikon tersebut, dan ini ditandai dengan ritus tradisional Hubo (Cebuano, “pakaian tetap”).

Selama Misa, para imam dan sakristus basilika secara seremonial dan dengan hormat menanggalkan Santo Niño dari jubah dan regalianya. Imam tersebut membacakan sebuah petisi pendek sebelum setiap pengangkatan, yang ditandai dengan dentuman drum yang meriah.

Pastor kemudian meneriakkan Christe exaudi nos. Imam kemudian menaikkan ikon untuk penghormatan, dengan hati-hati memasukkannya ke dalam baskom berisi air wangi empat kali, dan menyekanya kering. Dia kemudian membalutnya dengan jubah, dan mengganti regalianya.

Setelah mengganti setiap barang, dia mengucapkan doa dan memimpin jemaat untuk menyanyikan lagu Laudes Regiæ: Christus Vincit; Christus Regnat; Christus, Christus Imperat (“Kristus Menaklukkan; Kristus Memerintah; Perintah Kristus”). Ritual tersebut dijelaskan sebagai pernyataan kerendahan hati Kristus, dan pada individu individual, itu harus mengilhami pertobatan rohani internal.

Pada tanggal 28 April 1965, Paus Paul VI memberikan kanonisasi untuk patung santo Nino dan mengangkat gereja tempat patung santo Nino sebagai Basilika Kecil pada tanggal 2 Mei 1965. Paus Yohanes Paulus II memberikan pengangkatan paus untuk gambar dalam Misa untuk Keluarganya pada tahun 1981.

Devosi kepada Santo Nino merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan dari setiap paroki di Filipin. Santo Nino asli tersimpan di Basilika di Cebu, tetapi setiap orang Filipina pasti memiliki patung santo Nino di rumahnya karena mereka percaya bahwa santo Nino adalah pelindung mereka, dapat menjawab dan mengabulkan doa-doa mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here